Rabu, 12 Juni 2019

Post mortem pada hewan ruminansia


Nama                    : Arif Sopiandi Hasibuan
NIM                     : 23010116120003

 Pemeriksaan Post Mortem Terhadap Karkas

Evaluasi terhadap produk yang akan diedarkan perlu dilakukan untuk mencegah terinfeksinya penyakit zoonosis melalui pangan bahan asal hewan (BAH) ataupun hasil bahan asal hewan (HBAH), yang dikenal sebagai food borne disease (Hambal dkk., 2013). Namun hal tersebut dapat dikendalikan lewat pemeriksaan hewan sebelum disembelih (ante-mortem) dan pemeriksaan hewan setelah disembelih (post- mortem). Pada pemeriksaan post-mortem, dilakukan penilaian pada organ-organ sapi yang telah disembelih secara palpasi untuk mengetahui konsistensi organ tersebut, secara inspeksi terhadap warna, dan bentuk organ, dan secara insisi untuk mengetahui kelainan pada tempat predileksi parasit dan perubahan patologis lainnya (Suardana dan Swacita, 2009). Selain untuk memastikan bahwa daging dan jeroan yang dihasilkan aman dan sehat, pemeriksaan post-mortem ini juga dapat memberikan informasi penelusuran penyakit serta mencegah beredarnya bagian/jaringan hewan yang terdeteksi mengandung agen penyakit ke masyarakat luas (Awah-Ndukum dkk., 2012)

1.        Cara Pemeriksaan
Dilakukan dengan hati-hati, higienis dan sistematik dilakukan segera setelah proses pemotongan Pemeriksa harus mengetahui hasil pemeriksaan antemortem yaitu :
·         Pengamatan Visual (inspeksi), perubahan bentuk,warna dan aspek
·         Perabaan (palpasi), perubahan konsistensi
·         Sayatan (Insisi) jika sangat dipelukan. Penyayatan untuk melihatperubahan karkas dan jeroan
·         Laboratorium
UrutanPemeriksaan: Kepala, organ, karkas, dan ginjal
1.1 Kepala
            Inspeksi seluruh permukaan kepala, mata, bagian mulut, hidung dan lidah jika  adanya lepuh-lepuh, abses dpaat diindikasi penyakitnya adalah : stomatitis, aktinobasilosis, aktinomikosis, nekrosis, penyakit mulut dan kuku (PMK) untuk bagian lidah dapat dilihat infeksi dan palpasi inspeksi dan insisi otot pengunyah Musculus massetericus(sejajar dengan tulang rahang bawah)
1.2 Paru-paru
Biasanya organ paru digantung bersama-sama dengan:  esofagus, trakea, paru, jantung, diafragma (sebagian) Inspeksi dan palpasi seluruh permukaan paruInspeksi trakea, insisi jika perlu untuk melihat bagian dalamPerhatikan: busa . kelainan yang mungkin ditemukan di paru-paru yaitu abses, bungkul-bungkul, TBC, pneumonia (radang paru). Inspeksi dan palpasi:Limfoglandula bifurcationis sinister, medius, dexter Limfoglandula mediastinalis cranialis, caudalis Limfoglandula tracheobronchialis cranialis Insisi lobus paru
1.3 jantung
Inspeksi dan palpasi seluruh permukaan hatiPerhatikan: abses, benjolan-benjolan, cacing Kelainan: aktinobasilosis, fasiolasis, abses
1.4 Esofagus
Perhatikan secara seksama  pemeriksaan trakea, paru dan jantung karena saling berhubungan dan berkaitan
1.5 Perut dan Usus
Inspeksi (palpasi jika perlu)Insisi melihat isi Kelainan:  parasit, enteritis (radang usus)
1.6 Limpa
Inspeksi dan palpasi seluruh permukaan (amati pembesaran) Jika perlu insisi
1.7 Alat kelamin
inspeksi dan palpasi

1.8 karkas
Inspeksi dan palpasi seluruh permukaan karkas:  otot, tulang, pleura, peritoneum, diafragma Kelainan:  kondisi, perdarahan, perubahan warna, kebersihan, bau, abses Inspeksi dan palpasi (insisi jika perlu):Limfoglandula cervicalis superficialis, Limfoglandula axillaris propius, Limfoglandula primae costae Limfoglandula cravialis, Limfoglandula costocervicalis, Limfoglandula popliteus, Limfoglandula subiliacus, Limfoglandula ischiadicus, Limfoglandula iliacus lateralis, Limfoglandula iliacus medialis, Limfoglandula ileofemoralis, Limfoglandula lumbales aortici, Limfoglandula inguinalis superficialis
2.        Kelainan-kelainanyang mungkin  ditemukanpada sapi
v  Kepala:oabses, tumor, aktinomikosis, PMKoMusculusmassetericusCysticercu boviso
v  Lidah:  abrasi, erosi, aktinobasilosis,  C. boviso
v  Limfoglandula:  abses, TBC, tumor
v  Paru:abses, parasit, pneumoni, TBC
v  Jantung :  perikarditis, ada parasit, pembesaran, hemoragi, endokarditis
v  Hati:pembesaran, abses, parasit, degenerasi, TBC
v  Esofagus :Cysticercus bovis
v  Limpa :pembesaran, tumor
v  Alat pencernaan :gastritis, enteritis, parasit
v  Ginjal :tumor, nefritis
v  Karkas :icterus, fraktura, artritis, blood splashing, bruising, parasite
3.        Kepututsan-keputusan postmortem
v  Dapat dikonsumsi (approved for human consumption)
v  Dimusnahkan seluruhnya (totally condemned for human consumption)
v  Dimusnahkan beberapa bagian (partially condemned for human consumption)
v  Bersyarat
Berdasarkan hasil pemeriksaan postmortem,  =petugas pemeriksa postmortem  menyatakan bahwa daging yang  bersangkutan:
v  Dapat diedarkan untuk konsumsi
v  Dapat diedarkan untuk konsumsi dengan
v  syarat sebelum peredaran
v  Dapat diedarkan untuk konsumsi dengan syarat selama peredaran
v  Dilarang diedarkan dan dikonsums
Hasil pemeriksaan beberapa organ pada sapi bali ( Erlin, dkk 2014)
v Jantung
Hasil pengamatan pada sampel organ jantung secara inspeksi, keseluruhan 90 sampel organ jantung berwarna sawo matang dengan bentuk organ meruncing di bagian apeks. Secara palpasi, konsistensi jantung terasa sangat kenyal dan elastis. Dan setelah diinsisi pada otot jantung, tidak ditemukan ciri-ciri terinfeksi penyakit maupun parasit. Pada selaput jantung tidak ditemukan peradangan maupun cairan pericardium. Diagnosis dari hasil pengamatan organ jantung dinyatakan sehat dan keputusan kesmavetnya layak untuk diedarkan dan aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat
v Paru-paru
Hasil pengamatan pada sampel organ paru-paru menunjukkan keseluruhan 90 sampel paru-paru berwarna merah muda, bentuknya multilobularis dan tidak terindikasi adanya hemoragi maupun radang. Ketika dipalpasi, lobus paru-paru menimbulkan suara krepitasi atau teraba seperti spons. Setelah diinsisi pada kelenjar pertahanan yakni limfonodus bronchialis kanan dan kiri serta limfonodus mediastinalis menunjukkan keadaan normal dicirikan dengan ukuran limfonodus yang normal (tidak membesar/mengecil), konsistensi kenyal, lokasi tidak terfiksir dan ketika disayat terdapat warna putih dikelilingi zona berwarna hitam. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Suardana dan Swacita (2009). Sedangkan insisi pada lobus paru-paru tidak ditemukan adanya perubahan patologi maupun aspirasi pneumoni. Diagnosis dari hasil pengamatan organ paru-paru dinyatakan sehat dan keputusan kesmavetnya layak untuk diedarkan dan aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat.
v Hati
Inspeksi terhadap 83 sampel organ hati menunjukkan warna organ coklat hingga sawo matang, permukaannya rata dan licin, tepi organ tipis serta konsistensi organ teraba padat elastis (Gambar 1). Insisi pada limfonodus portalis tidak menujukkan adanya tanda patologi. Pada 7 organ hati lainnya diamati warna organ tidak merata dari coklat hingga sawo matang dengan tepi organ menebal, permukaan kasar dan konsistensi padat hingga agak keras (Gambar 2). Insisi pada limfonodus portalis menunjukkan adanya peradangan pada hati dan pada saluran empedu ditemukan adanya infestasi parasit yaitu cacing Fasciola sp. (Gambar 3). Infestasi cacing Fasciola sp.ditemukan pada 2 organ hati sapi jantan muda, 3 organ hati sapi jantan dewasa dan 2 organ hati sapi betina dewasa. Menurut  Adriyati et al. (2015) secara makroskopis, terdapat perbedaan yang signifikan antara saluran empedu sapi bali yang terinfeksi Fasciola sp. dengan yang tidak terinfeksi. Jaringan saluran empedu yang tidak terinfeksi Fasciola sp.memiliki konsistensi yang tipis, licin dan elastis, sedangkan yang terinfeksi Fasciola sp.menjadi tebal, kaku, dan terdapat lendir yang bercampur darah (Gambar 4). Hal ini dikarenakan kehadiran cacing hati pada saluran empedu menyebabkan terjadinya kholangitis atau radang saluran empedu (Hussain dkk, 2014).

    Prevalensi cacing Fasciola sp. yang ditemukan di Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran Kota Denpasar adalah 7,78% dari 90 ekor sampel sapi yang diperiksa secara post-mortem. Menurut Balqis et al. (2013) pada organ hati yang terinfeksi Fasciola sp. Biasanya ditemukan peradangan dan fibrosis akibat dari invasi cacing yang merusak jaringan parenkim hati. Pada saluran empedu organ hati yang mengalami kelainan, ditemukan cacing dewasa Fasciola sp. yang berbentuk menyerupai daun

Penyakit-Penyakit Apa Saja Yang Termasuk Berbahaya Bagi Kesehatan Manusia, Jika Manusia Mengkonsumsi Daging Yang Teridentifikasi Berasal Dari Ternak Yang Mengidap Penyakit Tersebut.?
1.         maleus, penyakit infeksi kronis yang dapat menyerang pada hewan berkuku satu, dan jarang ditemukan pada hewan-hewan lainnya atau juga pada manusia. Penyakit ini ditandai dengan ciri yang spesifik yaitu adanya formasi nodule fi brokaseous pada alat pernafasan bagian depan, paru-paru dan kulit. Penyakit cenderung kronis kebanyakan ditemukan di Asia, Eropa Timur, dan Afrika Utara, tidak boleh dikonsumsi oleh manusia karena dapat tertular dan dapat menyerang ,manusia lewat secara langsung maupun tidak langsung seperti konsumsi karkas, kontaminasi, lecet kulit dan lain-lain
2.      rabies, Penyakit rabies disebabkan oleh virus dan merupakan penyakit yang sering terjadi pada anjing, kucing dan kera akan tetapi penyakit ini juga menyerang pada hewan ternak. Virus rabies sangat berbahaya dan dapat menular ke manusia atau disebut dengan zoonosis.. Ciri-ciri yaitu takut cahaya, takut angin, takut keramaian, berliur berlebihan, dan berubah perilaku menjadi ganas. Gejala yang muncul pada ternak sapi terduga rabies mirip seperti yang muncul pada anjing, selain itu terdapat pula gejala lain seperti melenguh, nafsu makan menurun, lepas atau memutuskan tali ikatan, jatuh atau roboh, merejan, gigi gemeretak, malas, mata memerah, lari atau kabur, berputar-putar, memakan benda-benda di sekitarnya, paralisis penis, dan kencing atau berak sambil berlari (Hussain,dkk 2014). Sapi yang terkena rabies sudah tidak layak untuk dikonsumsi dagingnya
3.      blue tongue akut, Penyakit ini merupakan penyakit arbovirus dan nyamuk sebagai vectorter jangkitnya penyakit ini misalnyaC. brevitarsis, C.fulvus, C. imicola, dan C.variipennis Penularan virus terjadi bisa secara mekanis ataupun biologis.dapat pulamenular karena penggunaan semen yang tertular BT pada proses inseminasibuatan. Yang dimaksud penularan secara mekanis (Transmitter) ialah jasadrenik yang terdapat pada tubuh vector tidak mengalami daur ulang sebelumditularkan, jika biologis (Intermediate host) maka jasad reniknya mengalamidaur ulang sebelum ditularkan ke ternak lain
4.       tetanus, Penyakit ini bisa menyerang binatang mamalia (hewan ternak ruminansia maupun hewan liar) dan manusia. Bakteri ini memproduksi racun yang disebut tetanospasmin, Racun ini menempel pada urat saraf di sekitar area luka dan akan dibawa ke sistem saraf pusat serta tulang belakang. Akibatnya akan terjadi gangguan pada aktivitas urat saraf, terutama pada saraf yang mengirimkan pesan ke otot
5.      anthrax,  infeksi bakteri serius yang disebabkan bakteri Bacillus anthracis. Pada keadaan normal, bakteri menghasilkan spora yang tidak aktif (dorman) dan hidup di tanah. Saat spora masuk ke dalam tubuh binatang atau manusia, spora menjadi aktif. tubuh pada suhu 8 hingga 45 derajat celcis
6.      toksoplasmosis akut, infeksi pada manusia yang ditimbulkan oleh parasit protozoa (organisme bersel satu) Toxoplasma gondii (T. gondii). Toksoplasmosis disebarkan dari hewan ke manusia, dengan cara mengkonsumsi hewan daging hewan yang terindikasi penyakit tokoplamolisis,
7.      salmonelosis, disebabkan oleh bakteri Salmonella. Bakteri dengan lebih dari 1800 serotipe ini memiliki bentuk batang langsing serta tidak membentuk spora almonellosis bersifat zoonosis, artinya mampu menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya. Sebagian besar penularan berasal dari produk peternakan yang terkontaminasi bakteri Salmonellaataupun melakukan kontak langsung dengan hewan penderita.
8.      Trichinelosis berat, merupakan salah satu jenis nematoda/cacing gilig. Cacing ini tersebar di seluruh dunia (kosmopolit), terutama daerah beriklim sedang Trichinella spiralis menyebabkan penyakit yang disebut trichinosis, trikinelosis, dan trikiniasis. Penyakit
Sumber :    Awah-Ndukum J, Kudi AC, Bradley G, Ane-Anyangwe I, Titanji VPK, Fon-Tebung S, Tchoumboue J. 2012. Prevalence of Bovine Tuberculosis In Cattlein The Highlands of Cameroon Based On The Detectionof Lesions In Slaughtered Cattle and Tuberculin Skin Tests of Live Cattle.Veterinarni Medicina 57(2): 59-76.
Adriyati GAAP, Winaya IBO, Berata IK. 2015. Studi Histopatologi Mukosa Saluran Empedu Sapi Bali Yang Terinfeksi Cacing Hati (Fasciola gigantica). Indonesia Medicus Veterinus 4(1): 54-65.
                   Balqis U, Darmawi, Sitti A, Muhammad H. 2013. Perubahan Patologi Anatomi Hati dan Saluran Empedu Sapi Aceh yang Terinfeksi Fasciola gigantica. Agripet (13)1: 53- 58.
                   Direktorat Kesehatan Hewan. 1981. Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular. Jilid I-V. Direktorat Jenderal Peternakan. Jakarta.
                   Hambal M, Arman S, Agus D. 2013. Tingkat Kerentanan Fasciola gigantica Pada Sapi dan Kerbau Di Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar. Jurnal Medika Veterinaria 7(3).
Hussain R, Mahmood F, Khan A, Khan Mz, Siddique Ab. 2014. Pathological And Molecular Based Study of Pneumonic Pasteurellosis In Cattle And Buffalo (Bubalus Bubalis). Pak. J. Agri. Sci. 51(1):235-240
Losos, J. 1986. Infectious Tropical Disease of Domestic Animals. Longman. England
Suardana IW, Swacita IBN. 2009. Higiene Makanan. Denpasar: Udayana University Press.
Subronto. 2008. Imu Penyakit Ternak (Mamalia) Penyakit Kulit (Integumentum). Kanisius. Yogya karta

Kamis, 01 Desember 2016

RANSUM TERNAK SAPI POTONG

NAMA            :ARIF SOPIANDI HASIBUAN
NIM                :23010116120003


SUSUNAN RANSUM TERNAK SAPI POTONG
NO
BAHAN PAKAN
jumlah %
SK
PK
TDN
HARGA Rp
SK R
PK R
TDN R
1
dedak padi
6.8
35.3
6.5
31
1500
2.4004
0.442
2.108
2
bungkil kelapa
11.4
8.8
18.7
77.18
2000
1.0032
2.1318
8.79852
3
onggok
11.3
17.89
1.57
63.2
800
2.02157
0.17741
7.1416
4
pollard
9.8
10
12.9
70
3500
0.98
1.2642
6.86
5
rumput gajah
5.8
31.5
9.9
46
100
1.827
0.5742
2.668
6
rumput benggala
7.4
33.6
8.8
53
100
2.4864
0.6512
3.922
7
glirisidia
10.7
13.3
22.7
75
900
1.4231
2.4289
8.025
8
tebon jagung
7.5
30.5
10.7
59
700
2.2875
0.8025
4.425
9
kleci
8
20.97
12.1
42.74
2500
1.6776
0.968
3.4192
10
alang-alang
5.9
18.2
6.5
54
1000
1.0738
0.3835
3.186
11
turi
9.8
12.4
19.6
70.4
900
1.2152
1.9208
6.8992
12
jerami padi
5.6
34.2
5
51
500
1.9152
0.28
2.856
100
266.66
134.97
692.52
14500
20.31097
12.02451
60.30852
 http://www.sakadoci.com/2015/11/jenis-bahan-pakan-ternak-kandungan.html