Nama : Arif Sopiandi Hasibuan
NIM : 23010116120003
Pemeriksaan Post Mortem Terhadap Karkas
Evaluasi terhadap
produk yang akan diedarkan perlu dilakukan untuk mencegah terinfeksinya
penyakit zoonosis melalui pangan bahan asal hewan (BAH) ataupun hasil bahan
asal hewan (HBAH), yang dikenal sebagai food borne disease (Hambal dkk., 2013).
Namun hal tersebut dapat dikendalikan lewat pemeriksaan hewan sebelum
disembelih (ante-mortem) dan pemeriksaan hewan setelah disembelih (post-
mortem). Pada pemeriksaan post-mortem, dilakukan penilaian pada organ-organ
sapi yang telah disembelih secara palpasi untuk mengetahui konsistensi organ
tersebut, secara inspeksi terhadap warna, dan bentuk organ, dan secara insisi
untuk mengetahui kelainan pada tempat predileksi parasit dan perubahan
patologis lainnya (Suardana dan Swacita, 2009). Selain untuk memastikan bahwa
daging dan jeroan yang dihasilkan aman dan sehat, pemeriksaan post-mortem ini
juga dapat memberikan informasi penelusuran penyakit serta mencegah beredarnya
bagian/jaringan hewan yang terdeteksi mengandung agen penyakit ke masyarakat
luas (Awah-Ndukum dkk., 2012)
1.
Cara Pemeriksaan
Dilakukan dengan
hati-hati, higienis dan sistematik dilakukan segera setelah proses pemotongan
Pemeriksa harus mengetahui hasil pemeriksaan antemortem yaitu :
·
Pengamatan
Visual (inspeksi), perubahan bentuk,warna dan aspek
·
Perabaan
(palpasi), perubahan konsistensi
·
Sayatan
(Insisi) jika sangat dipelukan. Penyayatan untuk melihatperubahan karkas dan jeroan
·
Laboratorium
UrutanPemeriksaan: Kepala, organ,
karkas, dan ginjal
1.1
Kepala
Inspeksi seluruh permukaan kepala, mata, bagian
mulut, hidung dan lidah jika adanya
lepuh-lepuh, abses dpaat diindikasi penyakitnya adalah : stomatitis,
aktinobasilosis, aktinomikosis, nekrosis, penyakit mulut dan kuku (PMK) untuk
bagian lidah dapat dilihat infeksi dan palpasi inspeksi dan insisi otot
pengunyah Musculus massetericus(sejajar dengan tulang rahang bawah)
1.2 Paru-paru
Biasanya organ paru
digantung bersama-sama dengan: esofagus,
trakea, paru, jantung, diafragma (sebagian) Inspeksi dan palpasi seluruh
permukaan paruInspeksi trakea, insisi jika perlu untuk melihat bagian
dalamPerhatikan: busa . kelainan yang mungkin ditemukan di paru-paru yaitu
abses, bungkul-bungkul, TBC, pneumonia (radang paru). Inspeksi dan
palpasi:Limfoglandula bifurcationis sinister, medius, dexter Limfoglandula
mediastinalis cranialis, caudalis Limfoglandula tracheobronchialis cranialis Insisi
lobus paru
1.3 jantung
Inspeksi dan palpasi
seluruh permukaan hatiPerhatikan: abses, benjolan-benjolan, cacing Kelainan:
aktinobasilosis, fasiolasis, abses
1.4 Esofagus
Perhatikan secara
seksama pemeriksaan trakea, paru dan
jantung karena saling berhubungan dan berkaitan
1.5 Perut dan Usus
Inspeksi (palpasi jika
perlu)Insisi melihat isi Kelainan:
parasit, enteritis (radang usus)
1.6 Limpa
Inspeksi dan palpasi
seluruh permukaan (amati pembesaran) Jika perlu insisi
1.7 Alat kelamin
inspeksi dan palpasi
1.8 karkas
Inspeksi dan palpasi
seluruh permukaan karkas: otot, tulang,
pleura, peritoneum, diafragma Kelainan:
kondisi, perdarahan, perubahan warna, kebersihan, bau, abses Inspeksi
dan palpasi (insisi jika perlu):Limfoglandula cervicalis superficialis, Limfoglandula
axillaris propius, Limfoglandula primae costae Limfoglandula cravialis, Limfoglandula
costocervicalis, Limfoglandula popliteus, Limfoglandula subiliacus, Limfoglandula
ischiadicus, Limfoglandula iliacus lateralis, Limfoglandula iliacus medialis, Limfoglandula
ileofemoralis, Limfoglandula lumbales aortici, Limfoglandula inguinalis
superficialis
2.
Kelainan-kelainanyang mungkin ditemukanpada sapi
v
Kepala:oabses,
tumor, aktinomikosis, PMKoMusculusmassetericusCysticercu boviso
v
Lidah: abrasi, erosi, aktinobasilosis, C. boviso
v
Limfoglandula: abses, TBC, tumor
v
Paru:abses,
parasit, pneumoni, TBC
v
Jantung
: perikarditis, ada parasit, pembesaran,
hemoragi, endokarditis
v
Hati:pembesaran,
abses, parasit, degenerasi, TBC
v
Esofagus
:Cysticercus bovis
v
Limpa
:pembesaran, tumor
v
Alat
pencernaan :gastritis, enteritis, parasit
v
Ginjal
:tumor, nefritis
v
Karkas
:icterus, fraktura, artritis, blood splashing, bruising, parasite
3.
Kepututsan-keputusan postmortem
v Dapat dikonsumsi (approved for human
consumption)
v Dimusnahkan seluruhnya (totally
condemned for human consumption)
v Dimusnahkan beberapa bagian
(partially condemned for human consumption)
v Bersyarat
Berdasarkan hasil pemeriksaan
postmortem, =petugas pemeriksa postmortem
menyatakan bahwa daging yang bersangkutan:
v
Dapat
diedarkan untuk konsumsi
v
Dapat
diedarkan untuk konsumsi dengan
v
syarat
sebelum peredaran
v
Dapat
diedarkan untuk konsumsi dengan syarat selama peredaran
v
Dilarang
diedarkan dan dikonsums
Hasil
pemeriksaan beberapa organ pada sapi bali ( Erlin, dkk 2014)
v
Jantung
Hasil pengamatan pada
sampel organ jantung secara inspeksi, keseluruhan 90 sampel organ jantung
berwarna sawo matang dengan bentuk organ meruncing di bagian apeks. Secara
palpasi, konsistensi jantung terasa sangat kenyal dan elastis. Dan setelah
diinsisi pada otot jantung, tidak ditemukan ciri-ciri terinfeksi penyakit
maupun parasit. Pada selaput jantung tidak ditemukan peradangan maupun cairan
pericardium. Diagnosis dari hasil pengamatan organ jantung dinyatakan sehat dan
keputusan kesmavetnya layak untuk diedarkan dan aman untuk dikonsumsi oleh
masyarakat
v
Paru-paru
Hasil pengamatan pada
sampel organ paru-paru menunjukkan keseluruhan 90 sampel paru-paru berwarna
merah muda, bentuknya multilobularis dan tidak terindikasi adanya hemoragi
maupun radang. Ketika dipalpasi, lobus paru-paru menimbulkan suara krepitasi
atau teraba seperti spons. Setelah diinsisi pada kelenjar pertahanan yakni limfonodus
bronchialis kanan dan kiri serta limfonodus mediastinalis menunjukkan keadaan
normal dicirikan dengan ukuran limfonodus yang normal (tidak
membesar/mengecil), konsistensi kenyal, lokasi tidak terfiksir dan ketika
disayat terdapat warna putih dikelilingi zona berwarna hitam. Hal ini sesuai
dengan yang dikemukakan oleh Suardana dan Swacita (2009). Sedangkan insisi pada
lobus paru-paru tidak ditemukan adanya perubahan patologi maupun aspirasi
pneumoni. Diagnosis dari hasil pengamatan organ paru-paru dinyatakan sehat dan
keputusan kesmavetnya layak untuk diedarkan dan aman untuk dikonsumsi oleh
masyarakat.
v
Hati
Inspeksi terhadap 83 sampel organ hati
menunjukkan warna organ coklat hingga sawo matang, permukaannya rata dan licin,
tepi organ tipis serta konsistensi organ teraba padat elastis (Gambar 1).
Insisi pada limfonodus portalis tidak menujukkan adanya tanda patologi. Pada 7
organ hati lainnya diamati warna organ tidak merata dari coklat hingga sawo
matang dengan tepi organ menebal, permukaan kasar dan konsistensi padat hingga
agak keras (Gambar 2). Insisi pada limfonodus portalis menunjukkan adanya
peradangan pada hati dan pada saluran empedu ditemukan adanya infestasi parasit
yaitu cacing Fasciola sp. (Gambar 3).
Infestasi cacing Fasciola sp.ditemukan
pada 2 organ hati sapi jantan muda, 3 organ hati sapi jantan dewasa dan 2 organ
hati sapi betina dewasa. Menurut Adriyati et al. (2015) secara makroskopis,
terdapat perbedaan yang signifikan antara saluran empedu sapi bali yang
terinfeksi Fasciola sp. dengan yang
tidak terinfeksi. Jaringan saluran empedu yang tidak terinfeksi Fasciola sp.memiliki konsistensi yang
tipis, licin dan elastis, sedangkan yang terinfeksi Fasciola sp.menjadi tebal, kaku, dan terdapat lendir yang bercampur
darah (Gambar 4). Hal ini dikarenakan kehadiran cacing hati pada saluran empedu
menyebabkan terjadinya kholangitis atau radang saluran empedu (Hussain dkk, 2014).
Prevalensi cacing Fasciola sp. yang ditemukan di Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran
Kota Denpasar adalah 7,78% dari 90 ekor sampel sapi yang diperiksa secara post-mortem. Menurut Balqis et al. (2013) pada organ hati yang
terinfeksi Fasciola sp. Biasanya
ditemukan peradangan dan fibrosis akibat dari invasi cacing yang merusak
jaringan parenkim hati. Pada saluran empedu organ hati yang mengalami kelainan,
ditemukan cacing dewasa Fasciola sp. yang
berbentuk menyerupai daun
Penyakit-Penyakit Apa Saja Yang Termasuk
Berbahaya Bagi Kesehatan Manusia, Jika Manusia Mengkonsumsi Daging Yang
Teridentifikasi Berasal Dari Ternak Yang Mengidap Penyakit Tersebut.?
1.
maleus, penyakit infeksi kronis yang dapat menyerang pada hewan berkuku
satu, dan jarang ditemukan pada hewan-hewan lainnya atau juga pada manusia.
Penyakit ini ditandai dengan ciri yang spesifik yaitu adanya formasi nodule fi
brokaseous pada alat pernafasan bagian depan, paru-paru dan kulit. Penyakit
cenderung kronis kebanyakan ditemukan di Asia, Eropa Timur, dan Afrika Utara,
tidak boleh dikonsumsi oleh manusia karena dapat tertular dan dapat menyerang
,manusia lewat secara langsung maupun tidak langsung seperti konsumsi karkas,
kontaminasi, lecet kulit dan lain-lain
2.
rabies, Penyakit rabies disebabkan oleh virus dan merupakan penyakit
yang sering terjadi pada anjing, kucing dan kera akan tetapi penyakit ini juga
menyerang pada hewan ternak. Virus rabies sangat berbahaya dan dapat menular ke
manusia atau disebut dengan zoonosis..
Ciri-ciri yaitu takut cahaya, takut angin, takut keramaian, berliur berlebihan,
dan berubah perilaku menjadi ganas. Gejala yang muncul pada ternak sapi terduga
rabies mirip seperti yang muncul pada anjing, selain itu terdapat pula gejala
lain seperti melenguh, nafsu makan menurun, lepas atau memutuskan tali ikatan,
jatuh atau roboh, merejan, gigi gemeretak, malas, mata memerah, lari atau
kabur, berputar-putar, memakan benda-benda di sekitarnya, paralisis penis, dan
kencing atau berak sambil berlari (Hussain,dkk 2014). Sapi yang terkena rabies
sudah tidak layak untuk dikonsumsi dagingnya
3.
blue tongue akut, Penyakit ini merupakan penyakit arbovirus dan nyamuk
sebagai vectorter jangkitnya penyakit ini misalnyaC. brevitarsis, C.fulvus,
C. imicola, dan C.variipennis Penularan virus terjadi bisa secara mekanis ataupun biologis.dapat
pulamenular karena penggunaan semen yang tertular BT pada proses
inseminasibuatan. Yang dimaksud penularan secara mekanis (Transmitter) ialah
jasadrenik yang terdapat pada tubuh vector tidak mengalami daur ulang
sebelumditularkan, jika biologis (Intermediate host) maka jasad reniknya
mengalamidaur ulang sebelum ditularkan ke ternak lain
4.
tetanus, Penyakit ini bisa
menyerang binatang mamalia (hewan ternak ruminansia maupun
hewan liar) dan manusia. Bakteri ini memproduksi racun yang disebut tetanospasmin,
Racun ini menempel pada urat saraf
di sekitar area luka dan akan dibawa ke sistem saraf pusat serta tulang
belakang. Akibatnya akan terjadi gangguan pada aktivitas urat saraf, terutama
pada saraf yang mengirimkan pesan ke otot
5.
anthrax, infeksi bakteri serius yang disebabkan bakteri Bacillus
anthracis. Pada keadaan normal, bakteri menghasilkan spora yang tidak aktif
(dorman) dan hidup di tanah. Saat spora masuk ke dalam tubuh binatang atau
manusia, spora menjadi aktif. tubuh pada suhu 8 hingga 45 derajat celcis
6.
toksoplasmosis akut, infeksi pada manusia yang ditimbulkan oleh parasit
protozoa (organisme bersel satu) Toxoplasma gondii (T.
gondii). Toksoplasmosis disebarkan dari hewan ke manusia, dengan cara
mengkonsumsi hewan daging hewan yang terindikasi penyakit tokoplamolisis,
7.
salmonelosis, disebabkan oleh bakteri Salmonella. Bakteri
dengan lebih dari 1800 serotipe ini memiliki bentuk batang
langsing serta tidak membentuk spora almonellosis bersifat zoonosis,
artinya mampu menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya. Sebagian besar
penularan berasal dari produk peternakan yang terkontaminasi bakteri Salmonellaataupun
melakukan kontak langsung dengan hewan penderita.
8.
Trichinelosis berat, merupakan salah satu jenis nematoda/cacing gilig. Cacing
ini tersebar di seluruh dunia (kosmopolit), terutama daerah beriklim sedang Trichinella
spiralis menyebabkan penyakit yang disebut trichinosis, trikinelosis, dan
trikiniasis. Penyakit
Sumber : Awah-Ndukum J,
Kudi AC, Bradley G, Ane-Anyangwe I, Titanji VPK, Fon-Tebung S, Tchoumboue J.
2012. Prevalence of Bovine Tuberculosis In Cattlein The Highlands of Cameroon
Based On The Detectionof Lesions In Slaughtered Cattle and Tuberculin Skin
Tests of Live Cattle.Veterinarni Medicina
57(2): 59-76.
Adriyati
GAAP, Winaya IBO, Berata IK. 2015. Studi Histopatologi Mukosa Saluran Empedu
Sapi Bali Yang Terinfeksi Cacing Hati (Fasciola
gigantica). Indonesia Medicus
Veterinus 4(1): 54-65.
Balqis U, Darmawi, Sitti A, Muhammad H. 2013.
Perubahan Patologi Anatomi Hati dan Saluran Empedu Sapi Aceh yang Terinfeksi Fasciola gigantica. Agripet (13)1: 53- 58.
Direktorat Kesehatan Hewan. 1981. Pedoman
Pengendalian Penyakit Hewan Menular. Jilid I-V. Direktorat Jenderal Peternakan.
Jakarta.
Hambal M, Arman S, Agus D. 2013. Tingkat Kerentanan Fasciola gigantica Pada Sapi dan Kerbau
Di Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar. Jurnal
Medika Veterinaria 7(3).
Hussain R, Mahmood F, Khan
A, Khan Mz, Siddique Ab. 2014. Pathological And Molecular Based Study of
Pneumonic Pasteurellosis In Cattle And Buffalo (Bubalus Bubalis). Pak. J. Agri. Sci. 51(1):235-240
Losos, J. 1986. Infectious Tropical Disease of
Domestic Animals. Longman. England
Suardana IW, Swacita IBN.
2009. Higiene Makanan. Denpasar:
Udayana University Press.
Subronto. 2008. Imu Penyakit Ternak (Mamalia)
Penyakit Kulit (Integumentum). Kanisius. Yogya karta